Business Psychology

Jebakan Peer Review: Mengapa Budaya "Saling Menyelamatkan" Merusak Performa Tim (Part 1)

Oleh: Admin 20 Mei 2026 5 menit membaca
Two women engage in an animated discussion in a modern office setting, surrounded by laptops and relaxed atmosphere.

Pernahkah Anda mengisi formulir evaluasi rekan kerja di kantor dan merasa ragu-ragu saat ingin memberikan nilai objektif?

***

Di banyak perusahaan di Indonesia, terutama yang memiliki budaya paternalistik yang kental seperti di korporasi lama, proses peer review tahunan sering kali berubah menjadi panggung sandiwara formalitas. Muncul jargon-jargon tidak tertulis di antara karyawan: "Jangan menilai orang lain jelek kalau tidak ingin dinilai jelek," atau "Dia kan orang lama, tidak enak kalau dikritik," hingga "Dia sangat ramah dan baik di kantor, mana mungkin saya beri nilai buruk untuk pekerjaannya."

Hasilnya? Semua orang mendapatkan nilai "aman" (rata-rata baik), harmoni semu terjaga, namun performa kerja organisasi tetap jalan di tempat. Skenario ini adalah kegagalan sistemik dari sistem penilaian kinerja yang tidak optimal.

Akar Masalah: Ketika "Harmoni" Disalahartikan sebagai "Ruang Aman"

Banyak organisasi mengira bahwa lingkungan kerja yang tidak ada konflik adalah lingkungan kerja yang sehat. Ini adalah salah kaprah terbesar dalam dinamika tim.

Ketika karyawan saling menyelamatkan nilai satu sama lain dalam peer review, mereka sebenarnya sedang melakukan apa yang disebut psikolog sebagai avoidance behavior (perilaku menghindar). Mereka takut menghadapi ketidaknyamanan atau potensi rusaknya hubungan personal jika menyampaikan kebenaran yang jujur. Ketakutan akan konflik ini sering kali melumpuhkan objektivitas.

Di sinilah letak ironinya: keramahan di permukaan tersebut tidak selalu menciptakan keamanan psikologis (psychological safety) yang sejati. Keamanan psikologis bukanlah kondisi di mana semua orang saling memuji secara palsu. Sebaliknya, ia adalah kondisi di mana setiap anggota tim merasa aman untuk jujur, mengaku salah, dan menyampaikan kritik objektif tanpa takut adanya konsekuensi interpersonal seperti dikucilkan atau dimusuhi.

Selama organisasi belum bisa memisahkan antara siapa manusianya (worth) dan bagaimana hasil kerjanya (work), sistem evaluasi secanggih apa pun akan selalu gagal. Sifat ramah seseorang tidak boleh menjadi tameng untuk memaklumi performa kerja yang buruk. Begitu pula status "orang lama" tidak seharusnya membuat seseorang kebal dari evaluasi objektif.

Dampak Fatal Harmoni Semu

Sistem peer review yang tidak optimal di perusahaan kita bukanlah sekadar masalah teknis pada aplikasi HRD Anda; itu adalah indikator dari rendahnya kecerdasan emosional (EQ) secara kolektif di dalam organisasi.

Kita tidak bisa terus-menerus mengorbankan performa perusahaan dan pertumbuhan profesional karyawan demi menjaga "harmoni semu" dan budaya saling menyelamatkan. Ketika kita menolak memberikan penilaian yang jujur, kita sebenarnya sedang menahan kesempatan orang lain untuk berkembang.

Lantas, bagaimana kita bisa meruntuhkan tembok "saling menyelamatkan" yang berbahaya ini tanpa harus merusak hubungan profesional di kantor? Bagaimana menyeimbangkan subjektivitas kedekatan personal dengan objektivitas profesional?

Simak kelanjutan artikel ini di Part 2 , di mana kita akan membedah sebuah framework kepemimpinan yang praktis untuk memberikan feedback yang tajam dan tetap menjaga hubungan personal.